“Meucrop Barang”, Kesan Marlina Muzakir Saat Menikmati Buah Naga Sabang

DICTATORNANGGROE.COM | SABANG – Matahari Minggu pagi itu belum terlalu terik ketika langkah Marlina Muzakir menyusuri lorong kecil menuju sebuah kebun buah naga di Gampong Ie Meule, Kecamatan Sukajaya, Kota Sabang. Di kiri-kanan jalan, deretan batang buah naga berdiri rapi dengan sulur-sulur hijau menjuntai, sebagian dihiasi buah merah menyala yang tampak matang di ujung batang.
Udara pesisir Sabang yang lembap bercampur aroma tanah basah menghadirkan suasana tenang di kebun milik Hendri, seorang warga yang memilih mengubah lahan kosong di samping rumahnya menjadi kebun produktif.
Pagi itu, perempuan yang akrab disapa Kak Na tersebut tampak antusias memanen langsung buah naga bersama Nuri Zulkifli. Sesekali ia tersenyum sambil memperhatikan buah-buah yang menggantung lebat di antara batang tanaman.
Begitu kulit buah dibelah, daging merah segar dengan biji-biji hitam kecil langsung terlihat mengilap terkena cahaya matahari. Kak Na pun mencicipi buah naga yang baru dipetik itu.
“Buah naga Sabang, meucrop barang,” ucapnya spontan sambil tersenyum.
Dalam percakapan sehari-hari masyarakat Aceh, “meucrop” merupakan ungkapan untuk menggambarkan sesuatu yang sangat nikmat. Tidak memiliki arti harfiah tertentu, tetapi cukup populer digunakan untuk memuji cita rasa makanan yang benar-benar memanjakan lidah.
Rasa manis yang lembut, kandungan air yang melimpah, serta sensasi renyah dari biji-bijinya membuat buah naga itu terasa menyegarkan, terlebih disantap langsung dari kebunnya.
Di balik kesegaran buah naga tersebut, tersimpan kisah ketekunan pasangan Hendri dan istrinya, Lisa Umami. Di usia yang tidak lagi muda, keduanya memilih memanfaatkan lahan tidur seluas lebih dari 5.000 meter persegi di samping rumah mereka menjadi sumber penghidupan baru.
Dengan penuh kesabaran, mereka menanam ratusan batang buah naga sedikit demi sedikit. Kini, sebanyak 700 batang telah tumbuh di kebun itu. Dari jumlah tersebut, sekitar 300 batang sudah berproduksi, sementara sisanya mulai berbunga.
Kak Na mengaku kagum melihat kegigihan pasangan tersebut mengembangkan kebun buah naga di tengah keterbatasan.
“Luar biasa Pak Hendri. Kreativitas dan keuletannya bersama sang istri berhasil mengubah lahan tidur menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi tinggi. Ini tentu bagus dan harus diduplikasi,” ujarnya.
Menurut Kak Na, apa yang dilakukan Hendri menjadi contoh bagaimana masyarakat dapat memanfaatkan lahan kosong di sekitar rumah menjadi sumber ekonomi keluarga. Ia pun mendorong masyarakat Aceh untuk mulai menanam komoditas yang sesuai dengan kondisi tanah di daerah masing-masing.
“Tidak harus buah naga. Bisa juga buah-buahan lain yang memiliki potensi ekonomi tinggi,” katanya.
Tak hanya itu, Kak Na juga mengajak masyarakat dan wisatawan yang datang ke Sabang untuk menikmati pengalaman memetik langsung buah naga di kebun tersebut.
“Datang, panen dan nikmati langsung di kebunnya. Buah naganya nikmat dan murah meriah,” ujarnya sambil tersenyum.
Meski permintaan buah naga di Sabang terus meningkat, Hendri mengaku hasil panennya hingga kini belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan pasar lokal, apalagi dipasarkan keluar daerah.
“Sekali panen hanya sekitar 200 sampai 300 kilogram. Untuk kebutuhan Sabang saja masih belum cukup,” katanya.
Menurut Hendri, salah satu tantangan utama dalam budidaya buah naga adalah kebutuhan cahaya yang cukup untuk mendukung pertumbuhan tanaman.
Ia menjelaskan, buah naga membutuhkan paparan cahaya sekitar 14 jam setiap hari agar mampu berproduksi optimal. Sementara itu, wilayah Sabang rata-rata hanya mendapatkan cahaya matahari sekitar 12 jam.
Karena itu, ia membutuhkan lampu penerangan di setiap batang tanaman untuk membantu proses fotosintesis pada malam hari.
“Lampu ini penting untuk menambah waktu cahaya agar produksi buah bisa meningkat,” jelas ayah lima anak tersebut.
Di tengah semilir angin Sabang, kebun buah naga milik Hendri kini bukan sekadar lahan pertanian kecil di samping rumah. Kebun itu perlahan tumbuh menjadi simbol ketekunan, kreativitas, sekaligus harapan bahwa dari halaman rumah sederhana pun, kesejahteraan dapat mulai ditanam.